Kumpulan pixel yang membentuk huruf yang membentuk karya

Rabu, 31 Januari 2018

Little Blizzard Pt. 1

Emerly duduk di samping kasur putrinya, yang tidak sabar mendengarkan dongeng ibunya. Gadis cilik itu tampak seperti akan melompat keluar kasur jika ibunya tidak segera memulai dongeng sebelum tidur.

"Kali ini apa yang kau mau?" Emerly mengelus rambut pirang putrinya yang bergelombang. "Hansel dan Gretel? Si Tudung Merah?"

"Safir si Salju!" pekik Zhara sambil mencengkram selimut merah jambunya yang tebal. "Aku mau Safir si Salju!"

Emerly tertawa geli mendengar permintaan Zhara, yang dia yakin pasti sudah mendengar dongeng itu lebih dari puluhan kali. "Baiklah, apa kamu tidak bosan?"

Salah satu hal yang ia suka dari Zhara adalah kilau matanya yang gemilang bagai keping kristal ketika ia mendongeng padanya. Walau Callie cinta segala sesuatu darinya, sepasang mata biru pudar itu akan selalu menjadi kesayangannya.

"Baiklah." Emerly mengambil nafas dalam. "Suatu hari...."


Safir hanya menatap langit biru cerah di padang rumput kesukaannya. Aroma segar rerumputan yang ia hirup selalu mengingatkannya akan kampung halamannya. Butuh beberapa semilir angin untuk menghanyutkannya ke dalam mimpi.

"Ibu mencarimu." Kelopak matanya langsung terbuka lebar ketika mendengar suara dalam itu. Ia langsung bangun dan menatap pemuda berambut kelam dengan bosan.

"Kau tahu, Rave. Kau bisa mengubah ekspresimu atau berhenti mengagetiku!" keluh Safir

Pemuda itu hanya mengangkat bahunya, bukan hal yang tidak biasa bagi gadis itu untuk terkejut ketika ia datang. Raven sendiri tidak tahu mengapa orang lain selalu menatapnya dengan mata lebar ketika ia datang.

Safir menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bangkit, mengumpulkan rambut pirang pucatnya menjadi satu ikatan. Waktunya untuk bersantai sudah habis, namun Safir masih bisa bermalas-malasan lagi nanti. Gadis itu mengikuti langkah Raven kembali menuju ke kota.

Tangan Safir memucat, seolah-olah seluruh darah yang ada di dalamnya tersedot habis. Jemarinya terasa dingin. Meski sudah melakukannya berkali-kali, tetap saja ia tegang. Apa yang akan terjadi jika ia gagal?

Kali keberapa pikiran itu terlintas di kepalanya, dia sudah lupa. Yang jelas adalah fakta bahwa pikiran itu tidak akan hilang dari benaknya selama dia masih punya jari jemari kurus itu.

"Apa ada masalah, kak?" suara mungil yang parau menyentuh telinganya. Di hadapannya, berdiri seorang gadis kecilkyang dibalut beberapa lapis pakaian, termasuk syal hijau yang hampir menutupi wajahnya. "Apa jarimu terluka, kak?" tanyanya lagi, nafasnya tampak putih di udara yang nyaris membeku.

Safir menggeleng, segera menyamakan tinggi bocah itu yang hanya setengahnya. "Tidak apa, Fleur. Hanya sedikit kedinginan, itu saja."

Gadis mungil itu menatap Safir dengan mata cokelat kopinya yang lebar. Fleur mengerjapkan matanya menyadarimbahwa ia membiarkan gadis yang lebih tua itu berada di bawah tumpahan debu putih, segera melangkah mundur mempersilakan Safir masuk. Sesaat, Safir merasa bahwa gadis yang usianya saja belum genap 10 tahun itu melihat jauh ke dalam hatinya, menembus tipuan kecilnya.

"Bukannya kakakmu sudah sembuh?" Safir mengamati lorong berlantai kayu yang ia lalui, dengan Fleur membimbing. "Apa dia deman lagi?"

Fleur berhenti di depan pintu, berputar menghadap Safir. Rambut pendek cokelatnya melambung sesaat, membuatnya seperti sebuah jamur. "Bukan Greg!" ia menggeleng. "Seorang pahlawan! Dia datang dari ibu kota kerajaan! Dia membawa baaanyaaak barang ajaib!"

Safir termenung mendengar celotehan nyaring Fleur. Ketika pintu itu terbuka dan menunjukkan sosok yang lemas terbaring di kasur, Safir tidak bisa berbuat apapun. Keranjang yang berisi obat-obatan nyaris terjatuh melihat pria itu.


Kamar tidur berdinding hijau itu kini sunyi, suara nafas si Gadis nyaris tak terdengar. Emerly menyenandungkan melodi lama miliknya, sambil melihat ke luar jendela yang terbuka.

"Kenapa kau bisa menyukai akhir seperti itu?" ia bertanya, suaranya nyaris tak dapat didengar. "Kenapa aku bisa menyukai akhir yang menyedihkan seperti itu?"

Pria di ambang pintu tersenyum, melihat kedua perempuan kesayangannya. Bibir keringnya sempat terbuka, sebelum ia memutuskan untuk menutupnya lagi. Tak peduli seberapa lama ia berpikir, akalnya tidak akan pernah menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Penggalian ilmu, eksperimen,  dan penelitian tidak akan membawanya lebih dekat pada jawaban dari pertanyaan simpel itu.

Ia hanya perlu menggali hatinya sendiri.

"Dongeng apa yang kau bacakan padanya?" Lelaki itu tidak bergerak, tetap mengawasi gerak gerik lembut Emerly.

Emerly menutupi tubuh Zhara dengan selimut tebalnya sebelum membubuhkan kecupan lembut pada keningnya. Ia berpaling pada lelaki itu, mendapati sorot mata hitam berada sepenuhnya pada dirinya.

"Si Salju Putih."

0 komentar:

Posting Komentar